Siapa Yang Bertanggung Jawab

Terlepas pemberitaan yang beredar hampir 1 minggu kebelakangan ini tentang kedua kubu supporter pecinta Persija dan Persib.
Terlepas berita-berita yang kurang sedap yang kian hari kian ramai.
Terlepas saya sebagai salah seorang dari pecinta Persija itu sendiri.
Saya di sini mencoba menempatkan diri saya sebagai penikmat sepakbola Indonesia,saya mengatakan KECEWA!

Mungkin sebagian pembaca mengira saya akan membahas perseteruan ataupun yang kini kian hangat menjadi buah bibir usaha “perdamaian” atau bahkan segala hal-hal negative yang menutupi hal-hal positive yang ada. Anda salah🙂

Lewat artikel ini saya ingin sedikit menyampaikan yang lebih tepatnya unek-unek di dalam hati tanpa harus di hipnotis atau apalah namanya. Baiklah mari dimulai.😀

Besarnya nama sebuah tim akan di ikuti dengan kepopularitasan. Tak peduli tim ini berasal dari mana, pastinya di setiap daerah pasti ada saja pendukungnya. Sepaham atau tidak dengan saya namun ini realita yang saya temui.

Hal ini tentunya bisa di manfaatkan oleh berbagai pihak. Dan dalam hal berbisnis pun rasanya banyak di pilih oleh banyak orang.
Kini tak begitu susah lagi bisa kita dapatkan kaos tim A di daerah Z.

Kaos-kaos supporter yang sering kita jumpai di pasar,pinggir jalan(kaki lima) bahkan di pertokoan berlable mall.
Kaos-kaos yang harganya mungkin tak begitu mahal, namun begitu bangganya ketika kaos tersebut kita pakai, berasa kitalah orang ter-kece di tempat ini. Hahaha

Lantas kenapa saya lontarkan kata kecewa?
Iya, saya kecewa. Ketika kaos-kaos yang sedianya bersablon dukungan untuk tim yang di banggakan kini rasanya tak pantas untuk di gunakan. Bagaimana tidak, kini kaos-kaos tersebut justru lebih banyak bertulisan hujatan untuk tim rival dibandingkan kebanggaan nya untuk mendung tim tersebut. Dan tak tanggung-tanggung bahasa yang digunakan.

Alangkah lebih miris ketika faktanya baju-baju “tak layak” tersebut justru banyak di gunakan atau dijual dengan tujuan pasar anak-anak!
Coba lihat sekeliling kalian, jangan menutup mata berpura-pura buta.
Tulisan-tulisan yang tak pantas di baju tersebut rasanya kurang etis, bahkan mungkin anak-anak tersebut tak tahu apa arti tulisan di baju yang mereka gunakan. Mungkin mereka hanya cuek,masa bodo karena mereka tak mau ambil pusing apa tulisan di bajunya,tugas mereka memakai baju yang di berilikan untuknya.
Namun apakah yang akan kamu jawab ketika sang anak menanyakan “tulisan ini apa artinya?”
Lantas Salah siapa? Tanggung Jawab Siapa?

Orang tua? Tukang Sablon?
Hmmmm. Rasanya susah untuk menyalahkan siapa.
Menghentikan nya?
Kalo bicara mengentikan nya memang susah dan gak gampang, tapi pasti ada dengan kesadaran dari diri masing-masing.

Yang pasti bagaimana mau menjadi manusia bermoral jika saat kecilnya saja sudah di “cekokin” entah secara sengaja atau tidak seperti itu.

Uang memang segalanya, namun tidak segalanya bisa di bayar dengan uang.
Manusia itu unik.walau manusia itu insan yg penuh keterbatasan,kelemahan dan nurani yang terkontaminasi,tapi manusia tetap jadi insan yg mahal dan gk bisa diukur oleh uang.

Tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, tidak bisa menuntut tanggung jawab ke siapa-siapa. Yang pasti masa depan anakmu/adikmu/saudaramu/tetanggamu secara tidak langsung ada di tangan kamu.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s