Cinta vs Gengsi

 Cinta, tidak ada yang bisa menolaknya. Iya(cinta) datang tanpa permisi dan terkadang pergi dengan bekas sakit. Iya bagian dari realita hidup yang tidak bisa kita tolak walau kita telah mendirikan benteng supaya tidak terjerumus didalamnya. Cinta, sesungguhnya tidak menyakitkan namun mereka yang berperan didalamnya yang membuat luka.
     Cinta tak memandang bentuk, siapa, kalangan, dan segala perbedaannya. Cinta itu melengkapi, melengkapi perbedaan agar kekurangan ini menjadi kesempurnaan. Benarlah istilah cinta itu buta, namun buta sebatas mata bukan hati. Cinta cukuplah menjadi buta jangan ditambah tuli untuk mendengar isi hati dan bisu untuk mengungkapkan apa yang kita rasakan.
     Cinta anak muda yang terkadang hanya sebatas manis di muka dan luka di rasa. Maka mari merubah pikiran itu, merubahnya menjadi sebuah kata cinta yang manis di dengar,diucap,dilihat dan dirasakan.
     Perasaan senang, deg-deg’an, pandangan mata, dan mencari perhatian. Akankah ini yang dinamakan proses jatuh cinta? Ketika hormon oxytocin mendorong rasa cinta tanpa bertanggung jawab menghilangkannya kembali, maka dibuatlah repot kita ketika istilah ‘kegalauan’ melanda.
     Jatuh cinta, tak selamanya berjalan mulus. Banyak percobaan, mulai dari istilah Pemberi Harapan Palsu(PHP), mentok di perbedaan keyakinan yang lagi-lagi menjadi alasan yang terkadang susah diterima, dan yang paling menyakitkan adalah ketika cinta yang kamu miliki hanya kamu yang rasakan(bertepuk sebelah tangan). Adilkah semua ini? Ketika tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan namun nyatanya mereka tidak bisa dipisahkan? Lantas buat apa jika mereka di pertemukan?
     Mencintai atau dicintai? Memiliki atau dimiliki? Menyakiti atau disakiti? Aku cinta kamu, apakah kamu memiliki perasaan yang sama? Gengsi, sebuah posisi yang tidak mau mengakui apa yang dirasakan. Ketika sebuah gengsi ala anak muda menjadi topeng hatimu. Cinta itu melengkapi, cinta itu mengerti, cinta itu perbedaan, dan cinta itu seharusnya mematahkan gengsi, lantas cintakah kamu ketika gengsi menjadi tameng?
     Lupakan masa lalumu bila menyakitkan, tidak perlu berkepala batu untuk kembali menikmati indah dan sakitnya cinta. Cinta itu kehidupan, selama kamu hidup kamu akan merasakannya. Hancurkanlah gengsi mu, bagaimana pun kami hanyalah kaum hawa yang tak bisa memulainya terlebih dahulu.
     Tidak ada alasan untuk tidak kembali jatuh cinta. Aku tak memaksa untuk kamu jadi miliku, tetapi resapilah perasaan ini agar kamu tau apa isi hatiku. Lantas selanjutnya biarkan waktu yang mengiri rasa ini. Akankah tetap bersamamu melawan gengsi mu atau harus kambali berkelana kepada hati tuan yang lain.
     Cinta dan gengsi, biarkan cinta yang menjawab dan mematahkannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s