Untitled

     Mungkin terlihat aneh ketika membaca sebuah artikel berjudul ‘untitled’, karena sesungguhnya saya pun sudah cukup kehilangan penggambaran yang pas untuk mewakili dan berusaha mengerti apa yang terjadi disini. Satu permasalahan bertambah dengan permasalahan lain yang seharusnya tidak dikaitkan satu sama lain, namun nyatanya menjadi satu yang menambah ‘ribet’ permasalahan ini.

Semua orang seolah bungkam, entah memang tak mengerti permasalahannya ataupun pura-pura tak mengerti. Usaha “tanya sini-tanya sana” demi mendapatkan kepastian agar membawa berita yang tidak menambah kesesatan, namun nyatanya hanya jawaban tak pasti dan bantuan doa yang mengakhiri setiap percakapan. Disisi lain wacana-wacana yang entah dari mana asalnya berhilir begitu saja, tanpa sumber, kebenaran, dan orang yang bertanggung jawab atas wacana tersebut, yang membuat timbul prasangka-prasangka yang tak sedikit berbau negative. Media seharusnya dapat berperan sebagai kontrol sosial, namun tak sedikit yang tidak menjalankan perannya dengan baik.

Tim ini baru saja berulang tahun, jutaan doa dan harapan terpanjat untuk kemajuan tim ini namun nyatanya tak seindah berbagai rangkaian doa tersebut. Tidak hanya tim, belum lama ini supporternya pun baru saja menginjak usia yang ke-15, apakah akan mendapatkan kado yang amat mengejutkan dari tim ini? Entahlah, mungkin petinggi dan sebagian dari kita sudah bisa menebaknya.

Tanpa berbelit-belit lagi saya ingin bertanya apa yang terjadi ketika sebuah Hak vs Kewajiban…? Seharusnya kedua kata ini tidak dapat dipisahkan dengan ‘vs’ namun kedua kata ini disatukan menjadi sebuah kesatuan yang saling memenuhi. Ketika hak terpenuhi kewajiban pun harus dijalankan, begitupun sebaliknya ketika kewajiban telah dijalankan hak pun harus diperoleh. Siapa pun itu orangnya, semua punya kesetaraan yang sama.

Didalam konteks ini saya tidak berpihak kepada satu kelompok ataupun satu individu, berkacamata sebagai seorang penikmat dan pencinta tim ini tentunya miris luar biasa melihat keadaan tim yang dibanggakan tak kunjung membaik.

Pemain memang datang dan pergi sili berganti, “Persija Jakarta adalah tim besar dan akan tetap menjadi tim yang besar dengan siapapun pemainnya,”(Bepe). Berkata loyalitas rasanya tak perlu diragukan lagi dan rasanya kurang bijak apabila menyangkut pautkan antara loyalitas dan Hak seseorang. Beritanya memang belum jelas namun apabila mengambil kemungkinan terburuk, sudah siapkah tim ini?? Pemain memang butuh suporter, namun saya pastikan saya bukan supporter seseorang pemain ataupun mendewakan seseorang pemain, jika nanti ada rasa tidak rela itu semata-mata keberhasilan pemain menjalin ikatan emosional kepada supporter tim yang bukan sekedar memperlihatkan permainan cantiknya namun penghargaan bagi kami.

Yang saya takutkan akankah segera datang? Satu persatu pergi dan tinggal sisa kenangan? Saya pun menyadari kekurangan saya, diamana saya tidak bisa turut serta dalam aksi nyata teman-teman yang turun langsung, namun dengan tulisan ini semoga dapat mewakili saya dan anda sekalian. Mungkin bagi sebagian ini hanyalah cuma-cuma, tetapi saya yakin tidak ada kata percuma yang timbul dari hati, karena sekarang bukan masalah saya atau anda tapi KITA.

Hay Macan! Tetaplah Bersama dan Rebut Kembali Gelar Juara!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s