Surat Duka untuk Tim Kebanggan

Surat duka untuk tim kebanggan…
Entah apa yang kini harus dilakukan lagi? Menyuarakan aspirasi dengan turun kelapangan secara langsung, bentuk dukungan satu suara melalui berbagai sosial media, banner-banner yang terbentang jelas, teriakan-teriakan lantang oleh teman-teman di dalam stadion, dan berbagai aksi yang pada intinya sama ingin menyampaikan suara kami sebagai para pencinta tim ini, namun sayangnya suara kami seakan dianggap hanyalah hiliran angin yang terbang begitu saja tanpa adanya itikat baik atau setidaknya respon positif dari pihak terkait.

Sudah cukup polemik dualisme yang berkepanjangan, sudah cukup masalah demi masalah yang tak kunjung selesai dan justru kian bertambah, sudah cukup yang mencintai yang harus menjadi korban, sudah cukup tetesan air mata ini keluar karena hal-hal yang bagi sebagian orang tap penting sama sekali.

Jika berfikir lebih terbuka dan luas lagi mungkin memang masalah hidup kita masing-masing jauh lebih rumit dibandingkan masalah tim ini, bahkan mungkin masalah itu timbul oleh karena kecintaan kita kepada tim ini, namun kecintaan ini yang menuntun saya/kita untuk peduli bahkan terkadang kepedulian itu berlebihan seperti orang tua yang terlalu “protect” kepada anaknya, tapi kembali lagi semua itu dilakukan karena ada cinta dihati ini. sebuah cinta yang terkadang melupakan hal-hal lain diluarnya.

Cinta, cinta itu tidak bisa dipaksakan. Cinta timbul dan datang tanpa perlu alasan, prediksi, dan rumus-rumus yang jelas. Begitu juga cinta yang timbul antara inidividu manusia kepada tim sepakbola kebangaannya, maka ketika sang kekasih di”nyiyir” apalagi diusik bukan hanya sekedar senggolan batin tak jarang kontak fisik yang akhirnya terjadi. Ini semua bukan karena ingin paling hebat, ingin ditakuti, ataupun merasa paling jagoan. Semua ini dilakukan sebagai bentuk “penyelamatan” untuk tim sebagai orang-orang yang berada diluar internal yang diharapkan dapat lebih objektif tanpa ada perasaan tak enak.

Menyebut kata objektif, teriakan kami selama ini bukan sekedar teriakan ikut-ikutan atau hanya asal-asalan. Kami tahu kondisi keuangan tim yang memaksa keterlambatan gaji, pemain pergi, dan pada intinya menjadi sebuah masalah yang besar, namun betapa mirisnya melihat secara nyata tim besar ibu kota miskin sponsor. Entah dari pihak diatas sana yang kurang usaha atau pasaran tim sepakbola Indonesia yang tak menggiurkan? Entahlah, yang jelas disini kami mulai “geram”, melihat cara permainan tim yang jauh bertolak belakang dari apa yang diharapkan.

Pelatih? Sebagai yang bertanggung jawab akan pemain tentunya beliau harus menjelaskan dan membuktikan keraguan kita selama ini bukannya balik memusuhi ataupun mencari simpati yang lain. Beliau yang dihormati, beliau yang dipercaya, akankah beliau yang memupus mimpi dan harapan?
Management? Sebagai pengelolah tim mulai dari keuangan dan segala isinya, tentunya punya beban berat dan harusnya sudah cukup tahu diri sebelum mencalonkan dan melaksanakan tugasnya. Jika berkata layak atau tidak, semua orang layak untuk menjadi pelatih atau management persija selagi mereka mampu dan kontribusinya terlihat jelas, jika sebaliknya? Rasanya tidak perlu dijelaskan lagi.

Ini memang baru awal musim, maka dari itu kita harus mulai bercermin dari sekarang supaya nantinya tidak jatuh lebih dalam.
Surat duka ini saya persembahkan sebagai bentuk rasa kekecewaan dan keprihatinan yang luar biasa kepasa tim kebanggan ibu kota ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s