menjadi bagian sepakbola Indonesia

Ada yang menunggu pertandingan ini sebagai sajian pertandingan yang menarik
Ada yang menunggu pertandingan ini sebagai ladang taruhan yang menggiurkan
Ada yang menunggu pertandingan ini sebagai pencitraan
Ada yang menunggu pertandingan ini sebagai santapan empuk untuk “dijual”
Ada yang menunggu pertandingan ini sebagai ajang balas dendam atau jago2an

banyak alasan yang dimiliki seseorang dalam melakukan sesuatu, begitu pun untuk sekedar menyaksikan pertandingan sepakbola. bagi para penggila sepakbola dan orang biasa mungkin rasanya berbeda, ketika satu pihak tidak mau pusing yang menang yang mana, dan satu pihak lagi yang sering disebut supporter dengan penuh antusias mengharapkan bahkan terkadang memaksa timnya harus menang.

rivalitas? apa sih definisi rivalitas bagi anda? akankah berakhir dengan gesekan, keributan, bahkan hilangnya nyawa sekali pun? apakah rivalitas itu sebatas gengsi? atau dendam turun temurun yang diwariskan?

disini saya tidak akan membahas dan menyuarakan kata perdamaian, karena sejatinya perdamaian itu harusnya terjadi pada anda dan ego anda. yah, ego untuk menahan amarah, makian, gengsi, dan menerima. gengsi dikala rekan-rekan yang lain menularkan kebenciaan dan dengan alasan “supaya seperti mereka” maka kita menanam kebencian juga. menerima dengan lapang dada dikala hasil kurang baik yaitu kekalahan pada tim kita. tapi semua itu susah! bahkan ego saya seakan enggan berdamai kala melihat punggawa atau tim diperlakukan tidak baik. lantas apakah akan selamanya kata perdamaian itu dikubur dalam-dalam? mungkin hanya anda yang tahu.

mungkin kita adalah korban omongan. yah, omongan dari segala pihak yang bisa berbeda 100% , namun kita cenderung berpihak kepada informasi yang dianggap menguntungkan kita. tanpa dicari kebenarannya maka kita telan informasi itu mentah-mentah dan jadilah sekarang ini. saya tidak menyalahkan satu pihak manapun karena sebenarnya kita semua salah!

hal negatif seperti gesekan yang terjadi terdahulu terus diingat. tindakan – tindakan profokatif yang tidak hanya terjadi dalam stadion. pemberitaan yang dianggap berat sebalah dan tidak adil. semua menjadi satu dan menambah rasa benci didalam diri. ini terus terjadi dan seolah menjadi akar bahkan dianggap tidak ada lagi jalan keluar. lantas jika sudah seperti ini siapa yang rugi? semuanya! pemain, tim, nama sepakbola, dan tentunya diri sendiri. ketika pertemuan dibayar nyawa. ketika pertandingan tidak diberikan izin. ketika satu kelompok di diskriminasi tidak boleh hadir. ketika yel-yel penyemangat menjadi makian bagi kelompok lain.

sama seperti halnya kita mengingat kejelekan lawan tanpa mau sedikit melihat kebaikannya kepada kita. itulah gambaran masyarakat kepada kita ketika pemberitaan negatif jauh lebih laku dibandingkan kegiatan positif yang kita lakukan. maka masyarakat akan selalu lekat dengan citra negatif walaupun tidak semuanya begitu.

yel-yel makian yang terdengar distadion terdengar oleh anak-anak kecil yang sedang menonton. baju-baju supporter lokal dipasaran lebih banyak bertulisan makian bagi kelompok lawannya, ironis memang apalagi pasar baju tersebut adalah anak-anak.

jika terus begini maka tidak cukup bicara soal kapan, tapi apa, bagaimana, kenapa, dan mengapa.

sepakbola Indonesia, supporter lokal, liga Indonesia
semoga mendapat sebuah jawaban yang terbaik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s