Sisi lain Stadion

Banyak makna tersimpan dibalik nama stadion, mulai dari sebutan rumah kedua sampai yang menganggapnya tempat ibadah. Selain sebuah sebutan, banyak juga yang memanfaatkan tempat ini mengikuti fungsi utamanya untuk olahraga atau yang menyewanya sebagai tempat konser dan kampanye. Dibalik banyaknya kepentingan atas nama penyewaan stadion, saya pribadi lebih senang menyebut stadion sebagai rumah kedua bagi suporter untuk olahraga khususnya sepakbola.
Rumah kedua, ya! Saya menyebut tempat ini sebagai rumah bagi para suporter dengan keluarga inti mereka semua yang berada di tribun. Dengan teriakan, kebersamaan, cinta, semangat, kecewa, tangis, marah, dan segala sesuatu didalamnya yang dirasakan dan terbagi bersama-sama. Bagi sebagian orang beranggapan stadion adalah tempat yang kurang bersahabat, mungkin anggapan ini muncul dari mindset negatif terhadap suporter yang membangun gambaran mereka terhadap stadion.
Saya tidak pernah lelah untuk mengatakan bahwa stadion tidaklah berbahaya seperti apa yang terkonsep didalam fikiran mereka. Saya tidak berkata mereka salah, mereka pantas memiliki pandangan seperti itu, tapi cobalah mau membuka mata dan telinga melihat mereka sang suporter junior berdiri ditribun tanpa suatu rasa kekhawatiran.
Ide dalam penulisan ini tercetus kala Persija vs persijap di GBK. Seketika banyak diperbincangkan ketika tv yang menyiarkan pertandingan ini terus menerus menyorot para suporter junior. Pembahasan ini merembet kedunia maya dan mulai bermunculan mereka para orangtua yang membawa anak-anaknya ke stadion untuk menyaksikan pertandingan secara langsung.
Dan akhirnya pada pertandingan vs Persik kemarin saya melihat secara langsung para suporter junior tanpa lelah, ragu, dan khawatir berdiri diatas pagar. Seolah terbiasa menjadi pemandu sorak, mereka tidak canggung sama sekali. Mereka bangga! Mereka bahagia! Mereka tidak takut, karena niat mereka mendukung Persija bukan mencari lawan.
Melihat mereka anak-anak yang begitu serius memandang kelapangan dengan rasa takut yang berbeda dengan dengan tante atau om diluar sana. Mereka takut tim kebanggaanya kalah bukan takut akan terjadi kerusuhan, karena mereka percaya mereka aman berada di tribun ini. Terlepas dari bersama orangtua mereka didalam tribun, saya rasa mereka tidak takut karena mereka datang tanpa fikiran akan terjadi kerusuhan.
Percaya atau tidak fikiran kalian akan sebuah hal mempengaruhi terjadi atau tidaknya didalam kehidupan nyata. Tidak perlu takut dan ragu jika kedatangan kalian memang tidak berniat mencari masalah.
Ketika kalian bisa bangga dan mendukung tim luar, kenapa kalian harus apatis akan tim negara kalian sendiri? Lucu saja terdengar dan terlihatnya.

Dari sini saya menemukan orang-orang hebat, orang-orang yang memiliki pemikiran luas dan terbuka. Dari tempat ini ada kebahagiaan, canda, tawa, kebanggaan, dan cinta. Suasana yang muncul menjadi satu, mengikat kami bukan hanya sebagai teman di dalam tribun tapi keluarga. Keluarga yang selalu menjaga satu sama lain.

Jadi, kapan berniat datang ke stadion?🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s